Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan (AI) telah merevolusi berbagai aspek kehidupan, dari teknologi, kesehatan, hingga bisnis. Namun, di balik kemajuan pesat ini, muncul kekhawatiran tentang dampak lingkungan yang ditimbulkan. Penggunaan energi yang besar untuk melatih model AI dan menjalankan pusat data menjadi salah satu isu utama. Kabar baiknya, para peneliti dan perusahaan teknologi kini mulai berfokus pada “Green AI”, sebuah inisiatif untuk mengembangkan teknologi AI yang lebih hemat energi dan berkelanjutan.
Green AI bertujuan untuk mengurangi jejak karbon yang dihasilkan oleh sistem AI. Salah satu pendekatan utamanya adalah dengan menciptakan algoritma yang lebih efisien. Peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), misalnya, berhasil mengembangkan model AI yang dapat dilatih dengan data yang lebih sedikit, sehingga mengurangi waktu pemrosesan dan konsumsi energi secara signifikan.
Selain itu, perusahaan-perusahaan besar seperti Google dan Microsoft juga berinvestasi dalam infrastruktur yang ramah lingkungan. Mereka mulai membangun pusat data yang menggunakan sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, serta menerapkan sistem pendingin yang lebih efisien. Upaya ini tidak hanya menghemat biaya operasional, tetapi juga mendukung komitmen global untuk mengurangi emisi karbon.
Meskipun tantangan masih banyak, tren menuju Green AI menunjukkan pergeseran penting dalam industri teknologi. Tujuannya adalah memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak datang dengan mengorbankan planet kita. Dengan terus berinovasi, kita bisa menciptakan masa depan di mana kecerdasan buatan menjadi alat yang kuat untuk memecahkan masalah dunia, termasuk masalah lingkungan, sambil tetap menjaga kelestarian alam.



