Bagi milenial, tantangan terbesar dalam memiliki rumah adalah ketidaksesuaian antara harga hunian yang terus naik dan gaji yang stagnan. Fenomena ini membuat banyak milenial merasa pesimis dan menganggap KPR sebagai beban yang mustahil. Namun, apakah benar demikian?
Harga rumah, terutama di kota-kota besar, memang meningkat rata-rata 10-15% per tahun. Di sisi lain, kenaikan gaji rata-rata hanya 5-7% per tahun. Kesenjangan ini menciptakan dilema. Banyak milenial yang akhirnya memilih untuk menunda pembelian rumah, atau bahkan tidak memikirkannya sama sekali.
Namun, menunda pembelian juga memiliki risiko. Harga rumah yang terus naik membuat Anda harus menabung lebih banyak lagi di masa depan. Solusinya, mungkin bukan hanya tentang menunggu gaji naik, tetapi juga tentang strategi yang lebih cerdas. Misalnya, melirik hunian di area pinggir kota yang harganya lebih terjangkau, atau memilih rumah kecil yang bisa dikembangkan (rumah tumbuh) seiring waktu.
Selain itu, penting juga untuk mengelola keuangan dengan bijak. Mulai berinvestasi sejak dini, mencari penghasilan tambahan, dan memprioritaskan tabungan untuk DP. Bank juga terus berinovasi dengan menawarkan skema KPR yang lebih fleksibel, seperti tenor yang lebih panjang atau bunga yang lebih rendah untuk pembeli pertama.
Pada akhirnya, KPR bukanlah musuh, melainkan sebuah alat yang bisa membantu Anda memiliki rumah. Kuncinya adalah perencanaan yang matang dan pemahaman yang realistis tentang kondisi pasar.



